Kamis, 26 Mei 2011

Cerita Sensasi TIN pas Wisuda

Cerita WISUDA Tahap IV (25 Mei 2011)

Hari itu Dept. Teknologi Industri Pertanian seolah menjadi Icon, banyak dikenal wisudawan & tamu yg hadir.

Petama, ketika Rektor IPB memberikan pidato wisuda, yang menyampaikan keberhasilan tetangga kita (red: ITP) yang sudah mendapatkan *Akreditasi Internasional Lembaga Pangan Dunia. Setelahnya hanya FKH & TIN yg disebut. Saat ini FKH sedang dalam proses mendapatkan Akreditasi dari Lembaga Veteriner Dunia, dan tentu juga TIN yang sedang dalam Proses mendapatkan Akreditasi Internasional dari Lembaga Enginering Amerika, yang sudah kita kenal dgn *ABET. Tepuk tangan meriah dari seluruh yang ada di dalam GWW, termasuk Om Menteri Komunikasi & Informatika RI.

Kedua, ketika prosesi memindahkan kuncir oleh Rektor, ada salah satu teman kita yang membuat sensasi, yang kreatif dalam membuat cara baru memindahkan kuncir. Kalau yang benar dalam prosesi ini kan *Kita Menunduk, Kuncir dulu dipindahin baru Kita Salaman dengan Rektor, tapi ada juga yang suka kebalik, yaitu minta salaman dulu baru pindahin kuncir (jelas ini ga diterima Rektor & pasti dibenerin). Ada yang menarik karena salah satu teman kita tidak mengikuti keduanya, yaitu beliau *Menundukkan kepala dulu, dan pada saat tangan Rektor mendekat ke kepala untuk mindahin Kuncir, eh tangan temen kita ini malah nyambut ngajakin Salaman sebelum kuncir dipindah. :D *Kreatif. Kejadian ini juga pas di Close Up sama kamera di dalam GWW. (untungnya Rektor segera ngasih tahu yg bener).

Ketiga, salah satu teman kita juga menjadi lulusan terbaik Fakultas, jadi dipanggil ke depan bersama lulusan terbaik fakultas lain untuk mendapat penghargaan. *Mantap Jaya.! Bukan itu yang menadi sensasi, tapi ketika dipanggil untuk bersalaman dengan Rektor, Wakilnya, dan Ketua Senat Akademik. MC memanggil satu persatu lulusan terbaik, dimulai dari program doktor, dan pada saat tiba giliran teman kita ini, dia sudah berjalan maju hampir selangkah lagi di poduim, eh malah balik lagi ke tempatnya karena merasa bukan dia yang dipanggil. Padahal kami yang mendengar sangat yakin namanya yg disebut. Mungkin beliau merasa bukan dirinya yang dipanggil karena tidak sesuai urutan fakultas A, B, C, ... F. Untungnya langsung disambut petugas pemandu & langsung diarahkan untuk maju. *Karena memang MC memanggil tidak urut fakultas.

Keempat, di akhir acara kan ada pesan/sambutan dari Ketua Himpunan Alumni IPB, dan ternyata salah satu teman kita menjadi perwakilan sarjana yang mendapat kenang-kenangan (berupa pin) dari Alumni. *kita menyebutnya tumbal :D. Selesai meberikan pidato, Ketua Himpunan Alumni memberikan 2 PIN kepada wisudawan, dari program pascasarjana (Lulusan tercepat) dan teman kita (ga tau kenapa?? cuma ditarik aja sama Bu Ratna sehari sebelumnya). Di depan kamera & pada posisi Close up, eh dia *Cipika-Cipiki sama Ketua Himpunan Alumni. Disambut senyum sama hadirin yang hadir.

*
kenangan seumur hidup. bwt ceirta ke anak cucu cicit

Jumat, 18 Februari 2011

IPB Telah Publikasikan Hasil Penelitian Tentang Enterobacter sakazakii

IPB Telah Publikasikan Hasil Penelitian Tentang Enterobacter sakazakii

Bogor, 16 Februari 2011

Terkait putusan MA yang mewajibkan para tergugat untuk mempublikasikan nama produsen susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii, sebenarnya penelitian tersebut telah dipresentasikan oleh Dr. Sri Estuningsih sebagai peneliti pada seminar hasil-hasil penelitian di IPB tahun 2007, dan juga dipresentasikan dalam kapasitasnya sebagai narasumber pada rapat penentuan standar mutu pangan di BPOM pada tahun 2006. Penelitian yang sama juga telah dilakukan oleh Dr. Sri Estuningsih pada tahun 2003-2004 dan hasilnya telah dipublikasikan pada beberapa jurnal internasional seperti Journal of Food Protection Vol. 69 tahun 2006 dan International Journal of Food Microbiology Vol. 116 tahun 2007 dan Vol. 136 tahun 2009.

“Penelitian dalam rangka pengawasan keamanan pangan untuk mengungkap merek susu formula yang aman atau tidak, bukanlah kewenangan IPB, melainkan hal tersebut merupakan kewenangan BPOM sebagai bagian dari penegakan hukum dan aturan mengenai keamanan pangan yang beredar di pasaran” jelas Herry Suhardiyanto, rektor IPB di Bogor pada hari ini (14/2).

Menurut Rektor IPB, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Sri Estuningsih pada tahun 2006 masih merupakan tahap awal dari rangkaian penelitian untuk memperoleh informasi lebih lengkap tentang virulensi dan risiko yang ditimbulkan, sehingga dapat diketahui pula cara pencegahannya. Alhasil, penelitian IPB tentang isolasi Enterobacter sakazakii telah menjadi rujukan penting dalam pengembangan standar mutu susu formula dan makanan bayi di Indonesia. Standar mutu susu formula dan makanan untuk bayi itu ditetapkan pemerintah pada bulan Oktober 2008 atau beberapa bulan sejak hasil penelitian IPB itu dipublikasikan.

“IPB sangat mengapresiasi BPOM, yang telah melakukan penelitian pengawasan setelah hasil penelitian Dr. Sri Estuningsih tersebut dipublikasikan,” tambah Herry. IPB juga mengajak masyarakat untuk mempercayai hasil penelitian pengawasan sejak tahun 2008 tersebut, yang menunjukkan bahwa tidak ditemukannya kontaminan E. sakazakii pada semua sampel susu formula.

Melalui penelitian tersebut, Sri Estuningsih menyatakan telah berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri E. sakazakii. “Kami juga mempelajari sifat virulensinya yang merupakan penelitian bidang patologi dengan mengujicobakannya pada mencit atau anak tikus” jelas Sri Estuningsih. Lebih lanjut Sri mengutarakan bahwa penelitian ini bukan ditujukan untuk menguji merek susu formula dan makanan untuk bayi yang mana saja yang tercemar melainkan untuk memberikan kontribusi terhadap khasanah ilmu pengetahuan dan perbaikan standar mutu pangan dan cara praktis pencegahannya.
Sesuai dengan karakter bakteri E. sakazakii yang rentan terhadap panas dan tereliminasi pada suhu 72oC selama 15 detik, maka masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keberadaan bakteri tersebut, selama proses penyiapan dan penyajian susu formula dilakukan dengan baik. Dalam pada itu, pemberian ASI jelas lebih sehat dan lebih baik. Namun, bila harus memberikan susu formula kepada bayi maka susu tersebut harus diberikan dengan cara yang benar yaitu menggunakan air dengan suhu lebih dari 70oC atau 10 menit setelah air mendidih.

IPB memegang teguh komitmen untuk selalu berpihak pada kepentingan masyarakat luas, sebagai bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Untuk masalah kandungan E. sakazakii pada susu formula ini, IPB telah proaktif melakukan serangkaian kegiatan riset lanjutan dengan tetap berpedoman norma akademik yang mencakup riset bidang patologi dan keamanan pangan. Menurut Herry, seandainya kami harus mengumumkan 5 sampel yang mengandung E. sakazakii dari 22 sampel yang diteliti pada tahun 2006, maka akan terjadi ketidakadilan antara merek susu formula yang diambil sampelnya yaitu 22 sampel dan merek susu formula lainnya yang tidak diambil sebagai sampel. Hal ini karena memang yang dilakukan Dr. Sri Estuningsih bukan penelitian pengawasan sebagaimana kewenangan BPOM, melainkan penelitian isolasi yang bertujuan mempelajari tentang virulensi dan risiko yang ditimbulkan oleh bakteri E. sakazakii.

Menurut herry, IPB saat ini memang berada dalam situasi yang sulit. “Di satu sisi, kami harus menjunjung tinggi etika akademik, di sisi lain harus patuh hukum. Saya berharap akan ada jalan keluar yang berlandaskan hukum agar kami tak perlu melanggar etika akademik karena mengumumkan merek susu formula yang sampelnya dulu pernah mengandung E sakazakii. Namun, untuk keberpihakan kepada kepentingan masyarakat, jangan ragukan concern IPB, karena salah satu tri dharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat, dan IPB mempunyai sejarah panjang dalam hal pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Herry.***

INFORMASI LENGKAP HUBUNGI:
HUMAS IPB - Kantor Sekretariat Eksekutif IPB
Jl. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga Bogor 16680
West Java, Indonesia.
Phone. +62 251 8622634
e-mail : humas_se@ipb.ac.id

Rabu, 29 Desember 2010

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA

(dari Kembalikan Indonesia Kepadaku , TAUFIQ ISMAIL)
Darmaga, 22 September1979


I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Orang-orang menggali tali air irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi
Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilo sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani mengaji
Ayat-ayat alam
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dikais-kaisnya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-mayur yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ======

Catatan:
Bagian IV syair puisi ini dibacakan oleh sahabatnya, yakni Bpk Taufiq Ismail,
pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979,
sesudah Antua M. Kasim Arifin (lahir Langsa-Aceh Timur, 18 April 1938) menerima gelar Insinyur Pertanian.
Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang (sejak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata thn 1964
untuk memperkenalkan program Panca Usaha Tani) tapi ternyata menanam akar di Waimital – Maluku,
sehingga enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion.
Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor.
Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik.
Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja,
kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.
Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerubunginya selalu dan mengaguminya
sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan.
Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda.
Kemudian sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya (pensiun tahun 1994)
Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya.
Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa.
Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya..

WAHAI NEGERI, BERI KESEMPATAN BAGI KAMI UNTUK TIDAK PERNAH PUTUS ASA MENCINTAI NEGERI INI….INDONESIA! !

====


(ngopi dari blog tetangga)

Senin, 24 Mei 2010

Ainun, Istri dan Dokter Habibie (dari Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran sosok Ainun Habibie semasa hidupnya dinilai mempunyai arti tersendiri sebagai istri maupun ibu teladan. Setidaknya pengakuan ini disampaikan oleh promotor musik terkemuka Adrie Soebono yang adalah keponakan mantan Presiden RI BJ Habibie atau anak kakak tertua BJ Habibie di kediaman duka di Patra Kuningan XIII, No. 1, Jakarta. .

Adrie Soebono mengaku pernah dididik oleh Ibu Ainun sejak umur 14 tahun saat ia menetap selama 8 tahun di Jerman. "Enggak pernah sekalipun diomelin justru saya disayang padahal saya lagi bandel-bandelnya," ujar Adrie Soebono

"Bu Ainun ini cantik sekali waktu mudanya. Tahun 1962, dia pacaran dengan Pak Habibie di rumah orang tua saya," tambahnya.

"Pak Habibie ini enggak bisa lepas dari Ibu Ainun, mereka pasangan yang sangat serasi. Ke mana-mana selalu berdua. Selama Ibu Ainun sakit, Pak Habibie selalu ada di samping, dia enggak pernah ninggalin rumah sakit."

Adrie Soebono justru saat ini khawatir dengan kondisi kesehatan Habibie. Ini karena Ibu Ainun yang pernah berprofesi sebagai dokter semasa hidupnya merupakan orang yang mengendalikan obat-obat yang biasa dikonsumsi Habibie.

Adrie Soebono mengaku terakhir kali bertemu Ibu Ainun 2 bulan lalu sebelum beliau berangkat berobat ke Jerman. Menurut Adrie Soebono, Ibu Ainun saat itu tidak pernah mengeluh sedikit pun walaupun mengidap penyakit.

Saya menyesal saat-saat terakhir ini enggak di Jerman. Rencananya minggu depan mau ke Jerman tapi ada pekerjaan yang enggak bisa saya tinggalin.

"Yang lucu saat ketemu terakhir saya masih dianggap anak kecil padahal sayasudah tua begini," demikian dikisahkan Adrie Soebono.

Pesawat Garuda Indonesia yang khusus diterbangkan untuk menjemput jenazah Ibu Ainun bertolak dari Jakarta besok dan dijadwalkan tiba di Jerman Senin. Pesawat ini dijadwalkan bertolak dari Jerman Selasa dan tiba kembali di Jakarta Rabu pagi

Sabtu, 20 Maret 2010

Bukan Sengaja Canda Itu

Memang dasar aku suka iseng. Lebih parah lagi keisenagnku ga liat2 tempat, ga liat sama siapa yang aku isengin. Emang dasarnya suka bercanda. Aku anggap setiap orang sama untuk bisa diajak bercanda. Kupikir selama dia kenal aku, aku kenal dia, kemungkinan besar 99,99% bisa aku ajak bercanda.

Tapi teori ku salah. Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Ada yang kuat, biasa saja tanggapannya dengan candaan yg juga kuanggap biasa. Aku tak akan pernah bermasalah dengan tipe orang seperti itu dalam candaanku. Justru malah ada sebagian yang senang, tertawa sendiri bahkan menularkan pada temannya yang lain.

Yang membuatku gelisah adalah untuk yang tak suka dengan candaanku. Yang menurut mereka tidak pas, tidak tepat. Mungkin suasana hati mereka memang sedang tidak cocok untuk diajak bercanda. Mungkin sedang tak ingin tersenyum kali ya??!! Entah lah, hanya mreka dan Allah saja yang tahu suasana hatinya.

Ini juga lah yang membuatku sampai membuat posting tulisan ini. Ingin bebagi cerita saja pada yang membaca tulisan ini. Yang harus digarisbawahi dan dicetak tebal adalah, jangan pernah menganggap sama setiap orang dalam candaan. setiap orang sudah memiliki karakter masing-masing. Tak tepat kalau bercanda dengan mereka yang suasana hatinya sedang tak baik. Nah kalau untuk yang kedua ini memang agak sulit, apalagi kalau kita cuma lagi komunikasi lewat chat FB.. Aku belum tahu bagaimana solusi untuk yang kedua ini.

Melalui tulisan ini juga aku ingin meminta maaf untuk semua teman & sahabat yang pernah merasa aku sakiti karena candaanku. Tak pernah ada maksudku untuk menyakiti atau membuat goresan kasar pada hati kalian. Maksudku hanyalah hanya sekedar ingin mencairkan suasana saja. Hanya ingin membuat kalian tersenyum. Tapi ternyata salah kalau aku menganggap semuanya sama. Sekali lagi aku mohon ampun kalau memang telah menyakiti pereasaan kalian. Mohon maaf beribu kali maaf. Kalau teman2 berfikir tak ada manusia yang sempurna, tak bisa disamakan karakter setiap orang, aku juga bukan orang yang sama dengan yang lain. Aku mungkin orang yang sering keterusan kalau bercanda.
Sekali lagi tapi bukan yang terakhir, aku mohon maaf kalau sudah menyakiti hati teman2 dan sahabatku.

Jumat, 05 Maret 2010

Sahabatku Terlebih Dulu Pergi Meninggalkanku

Hari itu Kamis malam tanggal 28 Januari 2010. Aku dan teman kelompok tugas mata kuliah Perancangan Pabrik sibuk menyelesaikan perbaikan tugas akhir yang diberikan bu Erliza Noor, yang harus dikumpul keesokan harinya. Kami menyelesaikan tugas tersebut di sekretariat Himalogin sampai tak terasa hampir jam sebelas malam. Kontan aku berfikir kostan siapa kira-kira yang akan kujadikan tempat menginap malam itu. Karena seperti biasanya, kalau aku baru selesai menggarap tugas melebihi jam malam asrama, kemungkinan besar aku pasti tak akan tidur di asrama untuk malam tersebut.

Bukan karena tidak boleh masuk asrama, bukan pula karena aku akan diusir oleh satpam ataupun penghuni lain, tapi lebih karena alasan moral (enak - tidak enak). Aku tidak enak kepada satpam yang berjaga malam itu, sebab aku sering mewanti-wanti adik-adik asrama untuk tidak pulang melewati jam malam, dan tak jarang pula aku menghukum adik-adik yang pulang lewat jam malam. Makanya, kalau aku pulang melewati jam malam, berarti aku mencontohkan tidak baik untuk adik-adik asrama, berarti aku pun terpaksa melanggar kata-kata yang sering aku ajarkan untuk adik-adik asrama, untuk tidak pulang melewati jam malam.

Malam itu tak seperti malam biasanya. Perasaanku aneh. Aku selalu ingin segera pulang ke asrama. Padahal hari itu sudah masuk hari liburan semester, jadi sedang tidak ada kegiatan yang menantiku di asrama. Selesai membereskan tugas aku langsung berjalan kaki pulang ke asrama, melewati koridor-koridor fakultas yang sepi, tak ada aktivitas rapat ataupun belajar bareng seperti malam-malam perkuliahan. Suasana itu menambah semakin aneh perasaanku, yang lebih mengarah pada rasa melankolis.

Setibanya di pintu gerbang asrama putra, tiga orang satpam jaga terlihat membicarakan sesuatu hal yang serius. Baru tiga langkah aku melewati gerbang, Catur datang menyambutku. Wajahnya terlihat begitu sedih. Dia segera menyalamiku dan menanyaiku satu hal yang sebaiknya tak usah aku tahu.

“Sudah dapat kabar tentang Ginanjar?..”Tanyanya padaku.

“Kabar apa? Emang Ginanjar kenapa, bukannya tadi dia pulang ke rumahnya?” balasku.

“Katanya Ginanjar kecelakaan.”

“Dimana,,? trus sekarang gimana keadaannya?” tanyaku dengan rasa sedih bercampur penasaran.

“Iya, katanya kecelakaan di Depok. Trus..” Catur berhenti sejenak.

“Katanya.. meninggal...”lanjutnya.

INNA LILLAAHI WA INNAA.. ILAIHI RAAJI'UUN....”

Tiba-tiba hatiku mendung, terasa bagaikan akan turun hujan deras disertai angin kencang. Terjawab sudah pertanyaan kenapa perasaanku malam itu sangat aneh. Kabar tidak mengenakkan datang kepadaku dan keluarga besar asrama. Sahabat sekaligus keluargaku di asrama telah pergi terlebih dulu meninggalkanku. Tak ada lagi candanya yang mewarnai keseharianku dan rekan-rekan SR lain di asrama. Kami merasa begitu kehilangan.

Usai mendapat kabar itu aku dan SR putra yang lain langsung menuju Rumah Sakit Sentra Medika. Pak Irmansyah dan Pak Bonny juga turut serta mendampingi kami. Kami berangkat menggunakan mobil Kijang asrama dan Inova merah milik Pak Bonny, serta tambahan mobil Ambulance asrama. Perjalanan kami sangat lancar. Jalanan sudah sepi mendekati tengah malam itu.

Sampai di halaman parkir rumah sakit sudah ada dua polisi yang berjaga. Mereka kemudian mengantar kami ke tempat jenazah. Kesunyian menyelimuti kami. Kami berjalan semakin mendekati tempat jenazah. Terlihat sesosok tubuh tertutupi kain putih, membujur di atas ranjang rumah sakit. Salah satu polisi menawarkan kami untuk melihat tubuh dibalik kain puti itu.

“Boleh lihat.. Tapi kalau yang tidak kuat mending tidak usah lihat.!”

Aku berdiri sekitar tiga meter darinya, tak berani mendekat lagi. Hanya beberapa teman SR yang berani mendekat. Polisi itu membuka kain putih secara perlahan.

Kontan suasana yang mulanya sunyi menjadi ramai dengan tangis. Kulihat seseorang yang pernah kukenal tertidur di balik kain putih itu. Kepalanya dibalut perban, basah dengan warna merah. Wajahnya sudah lebam hampir tak dikenali. Darah masih mengalir dari kedua telinganya.

Tangisku pun kembali pecah. Aku tak kuat melihat tubuh itu. Aku segera keluar ruangan, duduk dibangku dekat ruang itu. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku. Kuhabiskan air mataku di tempat itu.

“Astagfirullah.. Astagfirullahaladziim.. Astagfirullahaladziim..” Berkali-kali kubaca istigfar untuk meredakan emosiku. Kubaca terus sampai air mataku tak lagi mengalir.

Kami menunggu sampai jenazah selesai dimandikan pengurus rumah sakit, setelah dipersilakan oleh pihak keluarga Ginanjar. Setelah itu kami langsung meluncur menuju rumah duka di Kampung Makasar, Jakarta Timur. Jenazah dibawa mobil ambulance asrama. Untuk pertama kalinya aku satu mobil dengan jenazah, tapi tak kurasakan ada suasana menyeramkan disana.

Sekitar jam dua malam kami sampai di rumah duka. Jenazah langsung dibaringkan di dalam rumah. Aku dan teman-teman SR lain pun kemudian menunggu di mushala sambil solat malam. Pemakaman rencananya dilangusngkan setelah solat Jum’at. Kuadukan semua perasaanku pada Allah. Aku berdoa sebisa aku bisa. Mataku kembali basah. Perasaanku begitu sendu. Gemerlap bintang malam yang terang, indah terlihat oleh orang lain, namun bagiku sangatlah suram, mereka terlihat muram, gelap tak terlihat.

Usai solat Jum’at, jenazah sekalian disolatkan oleh ratusan jamaah yang hadir. Isak tangis kembali terdengar dari beberapa jamaah yang ikut menyolatkan. Jamaah meng-aminkan doa yang dibacakan imam setelah solat.

Jenazah diberangkatkan menuju pemakaman Cilangkap diantar ratusan orang. Ada tiga kopaja, dua bus kecil IPB, tiga mobil pribadi, serta puluhan motor. Almarhum Ginanjar adalah orang besar, sehingga begitu banyak orang yang mengiringi kepergiannya. Dia telah membawa banyak perubahan, khususnya di asrama. Kepergiannya diiringi isak tangis banyak orang. Itu menandakan dia begitu dicintai banyak orang di sekitarnya.

Kini tak ada lagi canda seperti dulu yang mewarnai sekretariat SR asrama putra. Salah satu candanya yang kuingat adalah berbicara tentang pernikahan. Beberapa kali dia menceritakan kisah-kisah lucu pernikahan, apalagi waktu kami menghadiri pernikahan Mba Demi di Bekasi. Sepanjang perjalanan di mobil dia menghibur kami dengan cerita-cerita lucunya, sekali lagi tentang pernikahan. Dia begitu ingin menikah tak lama setelah lulus kuliah. Dia bilang ingin segera menyempurnakan separuh agamannya bersama seorang bidadari dunia.

Namun, Allah keburu memanggilnya ke tempat terbaik-Nya. Dia justru mendapatkan kenikmatan yang lebih indah dari bidadari dunia. Pasti sekarang dia sedang berbincang dengan bidadari calon mempelainya. Kembali bercanda dengan candaan yang terjaga.

Sahabatku Ginanjar Febrianto, doa kami menyertaimu...

Sabtu, 27 Februari 2010

Berharap Dia Pun Tahu

Aku sudah mulai terbiasa. Semua yang mengganggu hatiku sudah hampir dapat kukendalikan sepenuhnya. Tak apalah tak ada perjumpaan. Tak masalah walau tak ada sapa dalam sisa hari ini. Paling aku hanya bisa berkirim pesan melalui orang lain. Tak lebih dari itu.

Aku hanya bisa mengadu. Hanya pada Allah tentunya. Dalam sisa malam hampir setiap harinya.

Aku hanya bisa mencurahkan semua melalui tulisan ini. Tak lebih kuberharap. Hanya ingin dia tahu bagaimana rasaku ini. Sukur-sukur dia pun merasakan hal yang sama denganku.

Belum pantas memang kuutarakan semua. Mungkin aku berharap terlalu muluk-muluk. Bermimpi mendapat sesuatu yang tak mungkin kudapat. Kata pepatah, bagaikan punguk merindukan bulan. Tapi apa salahnya kalau cuma sekedar meluapkan kerinduan, walaupun memang hanya sekedar kerinduan sampai ujung hariku.

Terakhir kalinya aku berharap semoga dia tahu bagaimana rasaku ini. Sebenarnya aku masih ingin membuka ruang hatiku untuk yang lain. Tapi aku tak kuasa membukanya, hanya dia yang tahu kode kombinasi untuk membuka kunci pengaman dalam hatiku. Pernah coba kudobrak, tapi aku tak mampu. Itu malah hanya melukai diriku sendiri.

Satu keniscayaan yang kuyakini adalah, bahwa Allah telah mengatur semuanya. Dia telah menuliskan jalanku dalam Lauhul Mahfudz. Aku pun tak tahu bagaimana kelanjutan kisahku ini. Yang jelas aku berharap ada kebahagiaan dalam akhirnya, walau hanya sebentar kurasa. Aku sangat berharap lebih, mendapatkan kebahagiaan berjumpa dengan-Nya, ditemani bidadari-bidadari di tempat terbaik yang telah disediakan-Nya. Menikmati segala sajian yang telah dihidangkan-Nya. Aku sangat mengharapkannya. Berjumpa dengan-Nya setiap hari, dengan keadaan terbaikku.

Senin, 22 Februari 2010

Sepasang Angsa Putih Itu


Beraromakan Kesucian
Penuh Penghargaan dan Penghormatan
Saling Mencintai dengan Ketulusan

Aku begitu iri melihat kedua angsa putih itu
Jalinan Kasihnya Tampak Mempesona
Bukan Mereka Saja yang merasakan
Tapi Orang yang melihatnyapun pasti tahu
Betapa besarnya rasa cinta mereka,
Mereka tampak Begitu Setia,

paduan kedua leher itu,,
membentuk lambang hati simbol cinta mereka
aku begitu iri pada sepasang angsa putih itu
Semoga akupun bisa mengikuti jejak mereka
semoga aku bisa menemukan angsa putihku nanti
yang senantiasa bisa memahamiku apa adanya
dalam segala keterbatasanku,

Kupasrahkan semua padamu ya Rabb,